Peran Strategis BNI Mendorong Ekonomi Nasional

BNI sebagai mitra strategis pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif, sekaligus perkuat peran dalam tingkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan

Nasional383 Dilihat

Trijayanews.id- Sebagai bank nasional yang memiliki kapabilitas global menegaskan peran sebagai kontributor aktif bagi ekonomi nasional, tidak hanya sebagai lembaga intermediasi, tetapi juga sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.

Sejalan dengan prioritas pemerintah dan Asta Cita, kontribusi tersebut difokuskan pada sektor-sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, penguatan ekonomi desa, serta sektor riil yang menjadi penggerak utama penciptaan lapangan kerja dan pembangunan daerah.

Peran tersebut diwujudkan melalui pembiayaan yang terarah, penguatan layanan keuangan, serta optimalisasi digitalisasi guna memastikan program pembangunan berjalan efektif dan berdampak luas. Dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), BNI berperan dengan menghadirkan solusi transaksi digital melalui Virtual Account dan BNIdirect untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi.

Pada Program Sekolah Rakyat, BNI menyediakan layanan perbankan digital yang terintegrasi, termasuk pembukaan rekening bagi siswa dan tenaga pendidik, serta penguatan ekosistem keuangan melalui Agen46. Di sisi lain, dukungan terhadap UMKM, koperasi, dan desa juga terus diperkuat melalui pembiayaan untuk program KDMP yang terhubung dengan Agen46, serta partisipasi dalam Program 3 Juta Rumah melalui penyaluran KPR FLPP.

“BNI akan terus hadir sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, sekaligus memperkuat peran dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” tegas Putrama.

BRAVE Fondasi Pertumbuhan Jangka Panjang

Putrama menambahkan, BNI terus melanjutkan program transformasi dalam menghadapi perubahan kondisi pasar dan persaingan yang semakin kompetitif, salah satunya melalui inisiatif BRAVE.

Melalui BRAVE, BNI menjalankan program pemberdayaan peran Branch (sampai dengan kantor cabang pembantu) sebagai point of sale utama dalam akuisisi bisnis, Region sebagai pengarah strategi eksekusi bisnis di wilayah, serta Area sebagai orkestrator eksekusi bisnis.

Pengembangan jaringan juga dilakukan melalui penataan coverage kerja tiap cabang berbasis potensi daerah yang didukung kapabilitas digital, sehingga aktivitas pemasaran dan alokasi sumber daya dapat dilakukan lebih efektif.

“Pendekatan ini memastikan setiap lini organisasi memiliki peran yang jelas dan saling terintegrasi, sehingga eksekusi strategi bisnis dapat berjalan lebih cepat, terarah, dan memberikan hasil yang optimal di masing-masing wilayah,” tambah Putrama.

Tak kalah penting, lanjut Putrama, adalah peningkatan kapabilitas SDM, yang dilakukan melalui program-program pengembangan, coaching mentoring, serta melalui eksposur pada implementasi model bisnis baru ini. Talent-talent BNI di frontline akan memiliki kapabilitas, skill, dan pengalaman yang lengkap sebagai seorang bankir, sehingga menjadi modal dan fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan kinerja jangka panjang, apalagi untuk industri berbasis jasa seperti perbankan.

Fundamental Kuat Ditopang CASA dan Kualitas Aset

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengungkapkan bahwa kinerja keuangan BNI tumbuh positif dan seimbang, ditopang oleh keberhasilan perseroan dalam memperkuat basis dana murah (CASA) yang semakin solid. Struktur pendanaan yang kuat ini menjadi enabler bagi ekspansi kredit, sekaligus menjaga efisiensi biaya dana dan mengindikasikan adanya peningkatan pangsa pasar di tengah kompetisi likuiditas yang ketat.

Pencapaian dana pihak ketiga (DPK) yang kuat menjadi salah satu penopang BNI mencapai 26,6% YoY menjadi Rp731,6 triliun pada Maret 2026, ditopang oleh pertumbuhan giro sebesar 39,7% YoY dan tabungan yang mencatat pertumbuhan 10,4% YoY.

Pencapaian ini tidak diperoleh dengan singkat, melainkan hasil dari upaya setiap lini bisnis terutama kinerja cabang yang didukung oleh platform digital channel BNIdirect dan wondr by BNI. Hingga akhir Maret 2026, BNI mampu meningkatkan CASA market share 120 bps dari 10,1% di Maret 2025 menjadi 11,3% di Februari 2026. Dampak positifnya, biaya dana menjadi lebih efisien.

Platform digital turut menjadi pendorong utama dalam memperkuat pertumbuhan tersebut. Hingga Maret 2026, jumlah pengguna wondr by BNI telah melampaui 13 juta dengan tingkat engagement yang meningkat signifikan, berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan tabungan ritel. Sementara itu, platform BNIdirect juga mencatat pertumbuhan pengguna dan nilai transaksi lebih dari 16% YoY, yang berperan dalam memperkuat dana giro korporasi serta meningkatkan efisiensi layanan bagi segmen bisnis.

Penguatan pertumbuhan CASA mendorong penyaluran kredit yang mencatatkan akselerasi pertumbuhan yang sehat sebesar 20,1% YoY menjadi Rp919,3 triliun pada Maret 2026. Penyaluran kredit ini tumbuh seimbang di sisi business banking dan consumer ritel untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Struktur pendanaan yang tumbuh solid dan ekspansi kredit yang sehat menopang pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 12,1% YoY. Pada saat yang sama, pendapatan non-bunga tumbuh 12,6% terutama didorong peningkatan fee dari transaksi pada platform digital atau e-channel. Kinerja yang positif ini mendukung pencapaian Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) Rp9,3 triliun, yang merupakan pencapaian tertinggi apabila dibandingkan dengan kuartal I pada tahun-tahun sebelumnya.

Dari sisi kualitas aset, perbaikan kinerja terus berlanjut dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) membaik menjadi 1,9%, Loan at Risk berada di level 8,6% atau sudah lebih baik dari level sebelum pandemi, serta credit cost di level 1,1% sesuai dengan guidance.

Kombinasi pertumbuhan bisnis yang sehat, peningkatan pendapatan bunga bersih dan pendapatan non bunga serta kualitas aset yang semakin resilien menghasilkan laba bersih sebesar Rp5,6 triliun hingga kuartal I 2026.

Fundamental keuangan BNI juga tetap terjaga kuat, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 83,5% serta rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) di level 18,5%, jauh di atas ketentuan regulator. Hal ini mencerminkan peran intermediasi yang optimal serta struktur permodalan yang sehat.

“Kinerja ini menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi, dan pengelolaan risiko yang disiplin,” tutur Paolo.

Penguatan Permodalan Melalui Instrumen AT1

Paolo menjelaskan, dalam rangka mendukung penguatan struktur permodalan, perusahaan telah menerbitkan instrumen Additional Tier-1 (AT1) sebesar USD700 juta atau setara Rp11,9 triliun pada April 2026.

Penerbitan AT1 ini merupakan yang kedua setelah sebelumnya dilakukan pada 2021, sekaligus mencerminkan tingginya kepercayaan investor global yang tercermin dari permintaan yang mencapai lebih dari USD2,5 miliar atau oversubscribe hingga 3,6 kali dari nilai penerbitan.

Instrumen AT1 tersebut bersifat subordinasi, perpetual, serta non-cumulative, dan diterbitkan di pasar global berdasarkan Regulation S serta dicatatkan di Singapore Exchange (SGX), sebagai bagian dari strategi optimalisasi struktur permodalan perseroan.

Praktik Keberlanjutan

Direktur Risk Management BNI David Pirzada menuturkan bahwa BNI terus mendorong penerapan strategi keberlanjutan secara menyeluruh, baik dalam aktivitas operasional maupun penyaluran pembiayaan.

Komitmen tersebut tercermin melalui penguatan inisiatif keuangan berkelanjutan, serta integrasi prinsip LST/ESG dan TJSL dalam kebijakan jangka panjang, guna memastikan keseimbangan antara kinerja bisnis dan kontribusi terhadap lingkungan serta masyarakat.

Komitmen tersebut tercermin dari penerbitan Sustainability Bond senilai Rp5 triliun pada 2025 dengan peringkat “idAAA”, serta Green Bond Rp5 triliun pada 2021, yang dananya digunakan untuk mendukung pembiayaan berwawasan lingkungan dan sosial sesuai standar nasional dan internasional.

“BNI berkomitmen untuk terus memperluas pembiayaan berkelanjutan sebagai bagian dari kontribusi nyata dalam mendukung transisi menuju ekonomi hijau,” kata David.

Di sisi pembiayaan, BNI terus memperluas portofolio berkelanjutan melalui Sustainability Linked Loan (SLL) dan skema green financing guna mendorong peningkatan kinerja ESG nasabah serta mendukung upaya penurunan emisi menuju target Net Zero Emission 2060.

Sebagai pionir Green Banking dan Agent of Development, BNI mengintegrasikan prinsip keuangan berkelanjutan ke dalam nilai, budaya kerja, strategi bisnis, dan kebijakan operasional. BNI juga berperan aktif mendorong transisi hijau nasional melalui pemanfaatan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) untuk mengarahkan investasi pada proyek-proyek berkelanjutan. (*)