Pasar Layanan Lansia Kian Dilirik, Arunala Tawarkan Model Bisnis Berbiaya di Bawah Rp3 Juta

Nasional72 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA – Sektor ekonomi perawatan (care economy) di Indonesia menyimpan potensi pasar yang besar seiring meningkatnya populasi lanjut usia (lansia). Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya tergarap akibat adanya kesenjangan antara harga layanan dan daya beli masyarakat (pricing disconnect).

Riset terbaru Arunala Institute and Foundation Indonesia mengungkapkan bahwa sejumlah panti lansia swasta dengan tarif menengah, yakni Rp4,5 juta hingga Rp8,5 juta per bulan, menghadapi tantangan tingkat keterisian atau okupansi. Rata-rata tingkat keterisian fasilitas tersebut hanya mencapai 60%. Sebaliknya, fasilitas perawatan lansia dengan tarif terjangkau sekitar Rp1,5 juta per bulan justru beroperasi dengan tingkat keterisian mencapai 100%.

banner 336x280

Temuan tersebut dipaparkan dalam Dialog Kebijakan Perawatan Lansia yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Lanjut Usia Internasional 2026. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa rendahnya tingkat keterisian sejumlah panti lansia swasta tidak selalu disebabkan oleh minimnya kebutuhan pasar, tetapi juga dipengaruhi faktor keterjangkauan harga.

Menanggapi kondisi tersebut, Arunala mendorong pelaku industri kesehatan (healthcare), pengembang senior living, dan investor untuk mengevaluasi kembali strategi pengembangan produk. Salah satu pendekatan yang ditawarkan adalah memulai layanan melalui paket harian dan bulanan (day care/care centre) yang lebih fleksibel dan terjangkau, sebelum secara bertahap mengembangkan fasilitas hunian lansia jangka panjang (residential live-in).
74% Keluarga Batasi Anggaran Perawatan Lansia di Bawah Rp3 Juta

Kajian cepat mengenai kesediaan membayar (Willingness to Pay/WTP) dan kemampuan membayar (Ability to Pay/ATP) yang dilakukan Arunala terhadap keluarga di kawasan perkotaan menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat memiliki batas anggaran tertentu untuk membiayai perawatan orang tua.

Hasil kajian memperlihatkan adanya perbedaan tingkat kesediaan membayar berdasarkan jenis layanan dan tarif yang ditawarkan.

Berikut gambaran kesediaan masyarakat membayar layanan perawatan lansia:

Kategori layanan Tarif per bulan Kesediaan membayar

Day Care Paket A (Dasar) Rp1,5 juta 72%

Day Care Paket B (+ Aktivitas Sosial) Rp2,4 juta 45%

Day Care Paket C (+ Pemeriksaan Kesehatan) Rp3,2 juta 26%

Residential Live-in Penuh Rp8 juta 25%

Data tersebut menunjukkan bahwa kenaikan tarif layanan dari Rp1,5 juta menjadi Rp2,4 juta per bulan diikuti penurunan kesediaan membayar sebesar 27 poin persentase.

Selain itu, sebanyak 74% rumah tangga menyatakan bahwa batas maksimum anggaran realistis untuk perawatan lansia berada di bawah Rp3 juta per bulan. Untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan tersebut, sekitar 62% keluarga mengandalkan skema patungan antaranggota keluarga atau cost-pooling.

“Pasar perawatan lansia di Indonesia bukan kurang permintaan, melainkan mengalami kesenjangan antara desain produk dan daya beli konsumen. Mengembangkan fasilitas senior living berbiaya terjangkau dapat memperbesar potensi pasar dan bisnis pengembangan ekosistem lansia. Pengembang swasta juga dapat memfokuskan investasi pada paket layanan care berbasis komunitas, menjual paket perawatan dan kegiatan aktif lanjut usia melalui care centre, selain penyediaan unit properti residential live-in,” ujar Dyah Larasati, Direktur Eksekutif Arunala Institute, Indonesia.
Generasi Usia 40–50 Tahun Mulai Merencanakan Masa Tua

Selain memetakan kemampuan daya beli masyarakat, riset Arunala juga mengidentifikasi perubahan karakteristik konsumen di kawasan perkotaan, khususnya Jabodetabek.

Kelompok usia 40–50 tahun atau yang kerap dikaitkan dengan Generasi Sandwich mulai muncul sebagai segmen pasar potensial. Kelompok ini tidak hanya memikirkan kebutuhan perawatan orang tua, tetapi juga mulai merencanakan fasilitas dan layanan untuk masa tua mereka sendiri.

Baca Juga :  NU Minta Pesantren Tak Terprovokasi Teror Orang Gila

Hasil kajian menunjukkan sebanyak 91% responden perkotaan terbuka untuk memanfaatkan layanan care centre apabila dibutuhkan. Sementara itu, 95% responden menilai penggunaan fasilitas perawatan lansia tetap sejalan dengan nilai agama dan keluarga selama anak-anak tetap terlibat dalam proses pendampingan orang tua.

Mayoritas responden dewasa berusia 40-an juga mulai mencari alternatif senior living maupun day care untuk masa depan. Langkah tersebut didorong keinginan menjaga kemandirian fisik, memperoleh interaksi sosial dengan kelompok sebaya (peer-to-peer), serta mengurangi potensi beban pengasuhan bagi anak-anak mereka.

Dalam menentukan pilihan layanan, terdapat sejumlah faktor yang mendorong konsumen bersedia membayar lebih mahal. Keberadaan caregiver profesional bersertifikat menjadi pertimbangan utama dengan persentase 68%, disusul pemantauan kesehatan rutin sebesar 58% dan fasilitas kenyamanan sebesar 37%.
Lima Rekomendasi Strategis untuk Industri dan Pengembang Senior Living

Melalui diseminasi kajian cepat perawatan jangka panjang lansia yang diselenggarakan di Jakarta pada 27 Oktober 2026, Arunala Institute menyampaikan lima rekomendasi strategis bagi pelaku industri dan pengembang senior living untuk mengoptimalkan potensi pasar ekonomi perawatan di Indonesia.

1. Mengembangkan layanan modular melalui Care Centre dan Day Care

Pelaku industri perlu memperluas penetrasi pasar melalui model layanan modular berupa care centre atau day care dengan skema harian maupun bulanan. Penawaran dapat dimulai dari layanan dasar berbasis komunitas (community care) dengan tarif sekitar Rp1,5 juta per bulan agar lebih sesuai dengan kemampuan finansial mayoritas keluarga.

2. Mengintegrasikan layanan perawatan dengan fasilitas hunian lansia

Pengembangan produk perlu diarahkan pada penyediaan paket perawatan yang komprehensif, tidak hanya berfokus pada pembangunan properti fisik atau residential live-in. Layanan tersebut perlu mencakup aktivitas yang mendukung konsep active ageing, pemeriksaan kesehatan rutin, serta ruang interaksi dan sosialisasi bagi lansia.

3. Mengoptimalkan kapasitas melalui kemitraan pemerintah dan swasta

Pengembang dan pengelola fasilitas perawatan lansia dapat menjajaki skema Kemitraan Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) bersama pemerintah daerah. Kolaborasi ini berpotensi mengoptimalkan kapasitas panti swasta yang belum terisi, dengan tingkat idle capacity diperkirakan mencapai 30–40%, melalui mekanisme voucher maupun pembiayaan bersama.

4. Mengembangkan produk keuangan untuk persiapan masa tua

Sektor keuangan bersama pengelola senior living dapat mengembangkan produk tabungan dan asuransi yang berorientasi pada kebutuhan kesehatan, kesejahteraan, dan layanan lansia (wellness, ageing, and services). Produk tersebut dapat menyasar kelompok usia 40–50 tahun agar mereka memiliki kesempatan merencanakan dan mempersiapkan pembiayaan kebutuhan perawatan di masa tua secara mandiri.

5. Meningkatkan standar kualitas dan kepercayaan masyarakat

Pengembangan industri care economy juga perlu diikuti upaya mengurangi stigma sosial terhadap fasilitas perawatan lansia. Hal ini dapat dilakukan melalui transparansi kualitas layanan, sertifikasi resmi bagi caregiver, penerapan rasio pendampingan yang terukur dan terpantau, serta standar operasional medis maupun nonmedis yang profesional.

Dengan penerapan strategi tersebut, Arunala berharap pengembangan ekonomi perawatan lansia di Indonesia tidak hanya berorientasi pada penyediaan fasilitas hunian, tetapi juga mampu menghadirkan layanan yang lebih fleksibel, terjangkau, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Pendekatan tersebut sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha, pengembang properti, investor, dan sektor keuangan untuk mengambil bagian dalam pengembangan ekosistem care economy nasional yang berkelanjutan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *